Penulis : KH. Abdullah Gymnastiar
detikcom - Jakarta, Semoga Allah mengaruniakan kepada kita hati yang ikhlas. Karena betapapun kita melakukan sesuatu hingga bersimbah peluh berkuah keringat, habis tenaga dan terkuras pikiran, kalau tidak ikhlas melakukannya, tidak akan ada nilainya di hadapan Allah. Bertempur melawan musuh, tapi kalau hanya ingin disebut sebagai pahlawan, ia tidak memiliki nilai apapun. Menafkahkan seluruh harta kalau hanya ingin disebut sebagai dermawan, ia pun tidak akan memiliki nilai apapun. Mengumandangkan adzan setiap waktu shalat, tapi selama adzan bukan Allah yang dituju, hanya sekedar ingin memamerkan keindahan suara supaya menjadi juara adzan atau menggetarkan hati seseorang, maka itu hanya teriakan-teriakan yang tidak bernilai di hadapan Allah, tidak bernilai!
Ikhlas, terletak pada niat hati. Luar biasa sekali pentingnya niat ini, karena niat adalah pengikat amal. Orang-orang yang tidak pernah memperhatikan niat yang ada di dalam hatinya, siap-siaplah untuk membuang waktu, tenaga, dan harta dengan tiada arti. Keikhlasan seseorang benar-benar menjadi amat penting dan akan membuat hidup ini sangat mudah, indah, dan jauh lebih bermakna.
Apakah ikhlas itu? Orang yang ikhlas adalah orang yang tidak menyertakan kepentingan pribadi atau imbalan duniawi dari apa yang dapat ia lakukan. Konsentrasi orang yang ikhlas cuma satu, yaitu bagaimana agar apa yang dilakukannya diterima oleh Allah SWT. Jadi ketika sedang memasukan uang ke dalam kotak infaq, maka fokus pikiran kita tidak ke kiri dan ke kanan, tapi pikiran kita terfokus bagaimana agar uang yang dinafkahkan itu diterima di sisi Allah.
Apapun yang dilakukan kalau konsentrasi kita hanya kepada Allah, itulah ikhlas. Seperti yang dikatakan Imam Ali bahwa orang yang ikhlas adalah orang yang memusatkan pikirannya agar setiap amalnya diterima oleh Allah. Seorang pembicara yang tulus tidak perlu merekayasa kata-kata agar penuh pesona, tapi ia akan mengupayakan setiap kata yang diucapkan benar-benar menjadi kata yang disukai oleh Allah. Bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Bisa dipertanggungjawabkan artinya. Selebihnya terserah Allah. Kalau ikhlas walaupun sederhana kata-kata kita, Allah-lah yang kuasa menghujamkannya kepada setiap qolbu.
Oleh karena itu, jangan terjebak oleh rekayasa-rekayasa. Allah sama sekali tidak membutuhkan rekayasa apapun dari manusia. Allah Mahatahu segala lintasan hati, Mahatahu segalanya! Makin bening, makin bersih, semuanya semata-mata karena Allah, maka kekuatan Allah yang akan menolong segalanya.
Buah apa yang didapat dari seorang hamba yang ikhlas itu? Seorang hamba yang ikhlas akan merasakan ketentraman jiwa, ketenangan batin. Betapa tidak? Karena ia tidak diperbudak oleh penantian untuk mendapatkan pujian, penghargaan, dan imbalan. Kita tahu bahwa penantian adalah suatu hal yang tidak menyenangkan. Begitu pula menunggu diberi pujian, juga menjadi sesuatu yang tidak nyaman. Lebih getir lagi kalau yang kita lakukan ternyata tidak dipuji, pasti kita akan kecewa.
Tapi bagi seorang hamba yang ikhlas, ia tidak akan pernah mengharapkan apapun dari siapapun, karena kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tapi dari apa yang bisa dipersembahkan. Jadi kalau saudara mengepel lantai dan di dalam hati mengharap pujian, tidak usah heran jikalau nanti yang datang justru malah cibiran.
Tidak usah heran pula kalau kita tidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup ini. Orang yang tidak ikhlas akan banyak tersinggung dan terkecewakan karena ia memang terlalu banyak berharap. Karenanya biasakanlah kalau sudah berbuat sesuatu, kita lupakan perbuatan itu. Kita titipkan saja di sisi Allah yang pasti aman. Jangan pula disebut-sebut, diingat-ingat, nanti malah berkurang pahalanya.
Lalu, dimanakah letak kekuatan hamba-hamba Allah yang ikhlas? Seorang hamba yang ikhlas akan memiliki kekuatan ruhiyah yang besar. Ia seakan-akan menjadi pancaran energi yang melimpah. Keikhlasan seorang hamba Allah dapat dilihat pula dari raut muka, tutur kata, serta gerak-gerik perilakunya. Kita akan merasa aman bergaul dengan orang yang ikhlas. Kita tidak curiga akan ditipu, kita tidak curiga akan dikecoh olehnya. Dia benar-benar bening dari berbuat rekayasa. Setiap tumpahan kata-kata dan perilakunya tidak ada yang tersembunyi. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap apapun dari orang yang dihadapinya, yang ia harapkan hanyalah memberikan yang terbaik untuk siapapun.
Sungguh akan nikmat bila bergaul dengan seorang hamba yang ikhlas. Setiap kata-katanya tidak akan bagai pisau yang akan mengiris hati. Perilakunya pun tidak akan menyudutkan dan menyempitkan diri. Tidak usah heran jikalau orang ikhlas itu punya daya gugah dan daya ubah yang begitu dahsyat.
Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut: Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?"
Allah menjawab, "Ada, yaitu besi" (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?"
Allah yang Mahasuci menjawab, "Ada, yaitu api" (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, "Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?"
Allah yang Mahaagung menjawab, "Ada, yaitu air" (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).
"Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?" Kembali bertanya para
malaikat.
Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, "Ada, yaitu angin" (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, "Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?"
Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, "Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya."
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Nah, sahabat. Orang yang ikhlas adalah orang yang punya kekuatan, ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan. Allaahu Akbar.***
Akhlak-Akhlak Sabar Dikala Sakit
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar
detikcom - Jakarta, Mudah-mudahan kita semua dikaruniai nikmatnya bersabar, karena kesabaran begitu tinggi nilainya dalam Islam. Kedudukan seseorang di sisi Allah, keakraban seseorang dengan Allah bisa ditempuh dengan kesabaran, Innallaha maas shobirin, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.
Jadikanlah sabar dan sholat sebagai kunci pembuka pertolongan Allah. Adalah salah jika kita mengatakan bahwa sabar itu ada batasnya, berarti kita membatasi pahala. Mengatakan sabar itu ada batasnya, mencerminkan kita kurang sabar dalam bersabar. Sabar akan membuahkan pesona yang tiada terputus, oleh karenanya jika kita ingin menikmati kehidupan, kita harus menikmati setiap kejadian karena orang yang beriman tidak pernah merasa rugi. Diberi nikmat dia bersyukur, diberikan musibah dia bersabar. Syukur berarti kebaikan bagi dirinya, sabar juga kebaikan bagi dirinya. Maka tidak ada yang harus kita takuti dalam hidup ini, kecuali kita tidak punya rasa syukur dan tidak punya rasa sabar.
Asma Allah yang bersesuaian adalah “As-Shobur”, kata Shobur terambil dari kata shod, ba dan ro, maknanya asalnya adalah menahan ketinggian sesuatu atau sejenis batu yang amat keras, jadi seseorang yang mempunyai kemampuan menahan diri adalah termasuk orang–orang yang sabar.
Sabar bagi manusia bukan berarti pasrah, sabar adalah kegigihan kita untuk tetap berpegang teguh kepada ketetapan Allah. Jadi kesabaran itu adalah sebuah proses aktif, kombinasi antara ridho dan ikhtiar. Kesabaran bukan proses diam dan pasif melainkan proses aktif yaitu akal aktif, tubuh aktif dan iman yang aktif. Justru dari musibah yang disikapi dengan sabar akan lahir rahmat dan tuntunan dari Allah.
Ditimpa musibah sakit, misalnya. Semua orang pernah sakit, bahkan orang yang tidak pernah sakit mungkin saja dia tidak disukai oleh Allah. Sakit adalah bagian dari penggugur dosa. Rosullullah bersabda dalam sebuah hadis, ”Tidaklah seseorang merasakan sakit dihina atau tertusuk duri kecuali Allah menggugurkan dosanya, bagai gugurnya daun-daun”, jadi proses sakit itu proses pengguguran dosa.
Bagaimana sabar menghadapi sakit?
Yang pertama, kalau kita suatu saat diuji dengan sakit, kita harus sadar bahwa kesabaran pertama yang harus dimiliki adalah sabar Husnuzon (berbaik sangka) kepada Allah, karena seburuk-buruk perilaku adalah berburuk sangka kepada Allah. Husnuzon karena tubuh kita adalah milik Allah, bukan milik kita. Kalau Allah mau membuat penyakit pada diri kita, sehebat apapun diri kita tetap sakit. Allah berkuasa terhadap diri kita dan Allah mudah berbuata apa saja. “Allah Tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.” Yang menciptakan semua syaraf kita adalah Allah dan Allah tahu rasa sakit yang kita pikul karena dia yang menciptakan sakit.
Sabar yang kedua adalah sabar untuk tidak mengeluh. Sebenarnya menceritakan penderitaan kita kepada orang lain adalah mencerminkan ketidaksabaran, apalagi jika kita menceritakan sesuatu seakan lebih dari kenyataan. Hati – hati menceritakan penderitaan kepada orang lain sebab jika tidak hati-hati bisa menjadi kufur nikmat, sepertinya mengadukan perbuatan Allah yang Maha Agung kepada manusia, mahluk yang lemah. Jangan keluh kesah apalagi sampai mendramatisir, jangan sampai memprotes perbuatan Allah yang Maha Adil. Sakit tidak membuat seseorang jadi hina kalau disikapi dengan akhlak yang mulia.
Sabar yang ketiga adalah sabar menafakuri hikmah sakit. Tidak ada perbuatan Allah yang sia-sia, semua presisi. Setiap sakit itu ada hikmahnya, maka evaluasi dan renungkanlah, mungkin kita terlalu sibuk, dikasih sakit, sehingga kita bisa istirahat. Kita sakit berada di kamar, bayangkan saudara kita yang sakit dikolong jembatan, yang tidak punya tempat tidur. Tafakuri, ketika kita gagah dan hebat, dikasih sakit diare saja bisa menjadi lemas. Harusnya setiap sakit dapat meningkatkan kesadaran kita bahwa kesehatan itu amat berharga.
Sabar yang keempat adalah bersabar ketika ikhtiar. Ketahuilah bahwa yang menyembuhkan itu bukan dokter, bukan paranormal, yang menyembuhkan itu hanya Allah, karena Dia yang paling tahu penyakit kita, “Tiada musibah menimpa kecuali karena izin Allah.” Ketika kita sudah berobat ke sana sini tapi tidak juga sembuh, tidak akan rugi sebab akan menjadi amal. Barang siapa ridho kepada ketentuan Allah, maka Allah akan ridho, hidup terus maju, ikhtiar saja.
Sabar yang kelima, sabar untuk berniat sembuh dan punya niat untuk beribadah. Milikilah tekad untuk mengisi rasa sehat yang Allah karuniakan dengan meningkatkan ibadah. Jangan sampai kita tidak punya visi tentang bagaimana menggunakan kesehatan. Tidak sedikit orang terangkat derajatnya karena sakit atau cacat, bahkan ada orang yang cemerlang justru karena kebutaannya, karena seburuk-buruk penyakit justeru hati yang sakit.
Oleh karena itu, waspadalah jangan sampai kesehatan ini mengecoh kita. Dengan sehat tapi banyak maksiat, itu jauh lebih berbahaya dibanding sakit yang bisa membuat kita dekat dengan Allah. Tidak ada musibah yang terburuk kecuali orang yang tidak punya rasa syukur dan tidak punya kemampuan bersabar. ***
Indahnya Kasih Sayang
Penulis : KH. Abdullah Gymnastiar
detikcom - Jakarta, Mahasuci Allah, Zat yang mengaruniakan kasih sayang kepada makhluk-makhluk-Nya. Tidaklah kasih sayang melekat pada diri seseorang, kecuali akan memperindah orang tersebut, dan tidaklah kasih sayang terlepas dari diri seseorang, kecuali akan memperburuk dan menghinakan orang tersebut.
Betapa tidak? Jikalau kemampuan kita menyayangi orang lain tercerabut, maka itulah biang dari segala bencana, karena kasih sayang Allah Azza wa Jalla ternyata hanya akan diberikan kepada orang-orang yang masih hidup kasih sayang di kalbunya.Seperti kejadian yang menimpa Arie Hanggara yang kisahnya pernah diangkat di film layar lebar. Ia menemui ajal karena dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri. Begitulah, kekejian demi kekejian, kebiadaban demi kebiadaban menjadi perlambang kehinaan martabat manusia. Hal ini terjadi, tiada lain karena telah tercerabutnya karunia kasih sayang yang Allah semayamkan di dalam kalbunya.
Karenanya, tidak bisa tidak, kita harus berjuang dengan sekuat tenaga agar hati nurani kita hidup. Tidak berlebihan jikalau kita mengasahnya dengan merasakan keterharuan dari kisah-kisah orang yang rela meluangkan waktu untuk memperhatikan orang lain. Kita dengar bagaimana ada orang yang rela bersusah-payah membacakan buku, koran, atau juga surat kepada orang-orang tuna netra, sehingga mereka bisa belajar, bisa dapat informasi, dan bisa mendapatkan ilmu yang lebih luas.
Rasulullah SAW dalam hal ini bersabda, "Allah SWT mempunyai seratus rahmat (kasih sayang), dan menurunkan satu rahmat (dari seratus rahmat) kepada jin, manusia, binatang, dan hewan melata. Dengan rahmat itu mereka saling berbelas-kasih dan berkasih sayang, dan dengannya pula binatang-binatang buas menyayangi anak-anaknya. Dan (Allah SWT) menangguhkan 99 bagian rahmat itu sebagai kasih sayang-Nya pada hari kiamat nanti." (H.R. Muslim).
Dari hadis ini nampaklah, bahwa walau hanya satu rahmat-Nya yang diturunkan ke bumi, namun dampaknya bagi seluruh makhluk sungguh luar biasa dahsyatnya. Karenanya, sudah sepantasnya jikalau kita merindukan kasih sayang, perhatian, dan perlindungan Allah SWT, tanyakanlah kembali pada diri ini, sampai sejauhmana kita menghidupkan kalbu untuk saling berkasih sayang bersama makhluk lain?!
Kasih sayang dapat diibaratkan sebuah mata air yang selalu bergejolak keinginannya untuk melepaskan beribu-ribu kubik air bening yang membuncah dari dalamnya tanpa pernah habis. Kepada air yang telah mengalir untuk selanjutnya menderas mengikuti alur sungai menuju lautan luas, mata air sama sekali tidak pernah mengharapkan ia kembali.
Sama pula seperti pancaran sinar cerah matahari di pagi hari, dari dulu sampai sekarang ia terus-menerus memancarkan sinarnya tanpa henti, dan sama pula, matahari tidak mengharap sedikit pun sang cahaya yang telah terpancar kembali pada dirinya.
Seharusnya seperti itulah sumber kasih sayang di kalbu kita, ia benar-benar melimpah terus tidak pernah ada habisnya.Tidak ada salahnya agar muncul kepekaan kita menyayangi orang lain, kita mengawalinya dengan menyayangi diri kita dulu.
Mulailah dengan menghadapkan tubuh ini ke cermin seraya bertanya-tanya: Apakah wajah indah ini akan bercahaya di akhirat nanti, atau justru sebaliknya, wajah ini akan gosong terbakar nyala api jahannam?Tataplah hitamnya mata kita, apakah mata ini, mata yang bisa menatap Allah, menatap Rasulullah SAW, menatap para kekasih Allah di surga kelak, atau malah akan terburai karena kemaksiyatan yang pernah dilakukannya? Bibir kita, apakah ia akan bisa tersenyum gembira di surga sana atau malah bibir yang lidahnya akan menjulur tercabik-cabik?!
Perhatikan pula tubuh tegap kita, apakah ia akan berpendar penuh cahaya di surga sana, sehingga layak berdampingan dengan si pemiliki tubuh mulia, Rasulullah SAW, atau tubuh ini malah akan membara, menjadi bahan bakar bersama hangusnya batu-batu di kerak neraka jahannam?
Ketika memandang kaki, tanyakanlah apakah ia senantiasa melangkah di jalan Allah sehingga berhak menginjakkannya di surga kelak, atau malah akan dicabik-cabik pisau berduri.
Bersihnya kulit kita, renungkanlah apakah ia akan menjadi indah bercahaya ataukah akan hitam legam karena gosong dijilat lidah api jahannam?
Mudah-mudahan dengan bercermin sambil menafakuri diri, kita akan lebih mempunyai kekuatan untuk menjaga diri kita.Jangan pula meremehkan makhluk ciptaan Allah, sebab tidaklah Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia. Semua yang Allah ciptakan syarat dengan ilmu, hikmah, dan ladang amal. Semua yang bergerak, yang terlihat, yang terdengar, dan apasaja karunia dari Allah Azza wa Jalla adalah jalan bagi kita untuk bertafakur jikalau hati ini bisa merabanya dengan penuh kasih sayang.
Dikisahkan di hari akhir datang seorang hamba ahli ibadah kepada Allah dengan membawa aneka pahala ibadah, tetapi Allah malah mencapnya sebagai ahli neraka, mengapa? Ternyata karena suatu ketika si ahli ibadah ini pernah mengurung seekor kucing sehingga si kucing tidak bisa mencari makan dan tidak pula diberi makan oleh si ahli ibadah ini. Akhirnya mati kelaparanlah si kucing ini. Ternyata walau ia seorang ahli ibadah, laknat Allah tetap menimpa si ahli ibadah ini, dan Allah menetapkannya sebagai seorang ahli neraka, tiada lain karena tidak hidup kasih sayang di kalbunya.
Tetapi ada kisah sebaliknya, suatu waktu seorang wanita berlumur dosa sedang beristirahat di pinggir sebuah oase yang berair dalam di sebuah lembah padang pasir. Tiba-tiba datanglah seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya seakan sedang merasakan kehausan yang luar biasa. Walau tidak mungkin terjangkau kerena dalamnya air di oase itu, anjing itu tetap berusaha menjangkaunya, tapi tidak dapat. Melihat kejadian ini, tergeraklah si wanita untuk menolongnya. Dibukalah slopnya untuk dipakai menceduk air, setelah air didapat, diberikannya pada anjing yang kehausan tersebut. Subhanallah, dengan ijin Allah, terampunilah dosa wanita ini.Demikianlah, jikalau hati kita mampu meraba derita makhluk lain, insyaAllah keinginan untuk berbuat baik akan muncul dengan sendirinya.
Kisah lain, ketika suatu waktu ada seseorang terkena penyakit tumor yang sudah menahun. Karena tidak punya biaya untuk berobat, maka berkunjunglah ia kepada orang-orang yang dianggapnya mampu memberi pinjaman biaya. Bagi orang yang tidak hidup kasih sayang dikalbunya, ketika datang orang yang akan meminjam uang ini, justru yang terlintas dalam pikirannya seolah-olah harta yang dimilikinya akan diambil oleh dia, bukannya memberi, malah dia ketakutan hartanya akan habis atau bahkan jatuh miskin.
Tetapi bagi seorang hamba yang tumbuh kasih sayang di kalbunya, ketika datang yang akan meminjam uang, justru yang muncul rasa iba terhadap penderitaan orang lain. Bahkan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam akan membayangkan bagaimana jikalau yang menderita itu dirinya. Terlebih lagi dia sangat menyadari ada hak orang lain yang dititipkan Allah dalam hartanya. Karenanya dia begitu ringan memberikan sesuatu kepada orang yang memang membutuhkan bantuannya.
Ingatlah, hidupnya hati hanya dapat dibuktikan dengan apa yang bisa kita lakukan untuk orang lain dengan ikhlas. Apa artinya hidup kalau tidak punya manfaat? Padahal hidup di dunia cuma sekali dan itupun hanya mampir sebentar saja. Tidak ada salahnya kita berpikir terus dan bekerja keras untuk menghidupkan kasih sayang di hati ini.
Insya Allah bagi yang telah tumbuh kasih sayang di kalbunya, Allah Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah Kasih Sayang-Nya akan mengaruniakan ringannya mencari nafkah dan ringan pula dalam menafkahkannya di jalan Allah, ringan dalam mencari ilmu dan ringan pula dalam mengajarkannya kepada orang lain, ringan dalam melatih kemampuan diri dan ringan pula dalam membela orang lain yang teraniaya, subhanallah.
Cara lain yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk menghidupkan hati nurani agar senantiasa diliputi nur kasih sayang adalah dengan melakukan banyak silaturahmi kepada orang-orang yang dilanda kesulitan, datang ke daerah terpencil, tengok saudara-saudara kita di rumah sakit, atau pula dengan selalu mengingat umat Islam yang sedang teraniaya, seperti di Bosnia, Chechnya, Ambon, Halmahera, atau di tempat-tempat lainnya.
Belajarlah terus untuk melihat orang yang kondisinya jauh di bawah kita, insyaAllah hati kita akan melembut karena senantiasa tercahayai pancaran sinar kasih sayang. Dan hati-hatilah bagi orang yang bergaulnya hanya dengan orang-orang kaya, orang-orang terkenal, para artis, atau orang-orang elit lainnya, karena yang akan muncul justru rasa minder dan perasaan kurang dan kurang akan dunia ini, masya Allah. ***
Ma'rifatullah (1)
Penulis : KH. Abdullah Gymnastiar
detikcom - Jakarta, Semoga Allah SWT, yang menguasai setiap mili, setiap senti bahkan sekecil apa pun yang ada di alam ini, menjadikan apa yang sedang kita baca ini sebagai saksi perbuatan baik kita di akhirat kelak. Tidaklah Allah SWT mempertemukan kita seperti ini kecuali pasti sarat dengan hikmah dan makna.
Sahabat, satu hal yang paling berharga dalam hidup ini adalah ketika kita mengenal Allah SWT. Dalam sebuah hadist Qudsi, Allah SWT berfirman, "Wahai anak Adam, Aku telah ciptakan kamu, maka kamu jangan bermain-main, dan Aku jamin rezekimu, maka kamu jangan merasa capai. Wahai anak Adam, carilah Aku, maka engkau akan menemui-Ku. Dan jika engkau menemukan Aku, engkau akan dapat sesuatu sedang Aku mencintaimu, lebih dari segalanya."
Subhanallah!
Sesungguhnya, Allah adalah sangat dekat. Bahkan lebih dekat daripada urat leher kita sendiri. Namun, tabir hati kita terlalu banyak penghalang hingga kedekatan dengan Allah SWT yang menciptakan diri ini menjadi tidak terasa. Sungguh berbahagia orang yang kedekatan dengan Allahnya sudah jauh. Berarti dia sudah dekat sekali dengan Allah. Yang bahaya adalah orang yang kejauhan dengan Allahnya sudah dekat. Berarti dia telah sangat jauh dengan Allah. Alangkah ruginya!
Orang yang mengenal Allah sungguh beruntung sebab dia akan:
1. Mengalami Perubahan yang Dahsyat
Andai kita memperhatikan sebuah bangunan, sehebat apapun, maka mudah saja membuatnya. Syaratnya tinggal ada arsitek, ada uang, dan ada pekerja, maka jadilah bangunan itu. Tetapi, membangun manusia itu sungguh tidak gampang. Betapa banyak bangunan yang indah tetapi manusianya rusak. Banyak yang makmur secara duniawi tetapi pribadinya hancur. Maka kekuatan untuk bisa maju, mulia, bermartabat dan cepat hanya bisa dengan keyakinan kepada Allah SWT.
Kekuatan keyakinan itu begitu dahsyat mengubah apapun bukan dengan bilangan tahun, tetapi bisa dengan bilangan bulan, minggu, hari, bahkan detik. Jadi, jika menginginkan perubahan yang drastis dan dramatis, maka tidak bisa dilakukan dengan tekanan uang, tidak bisa dengan ancaman dan paksaan, tetapi dengan kekuatan keyakinan kepada Allahlah semuanya bisa berubah!
Umar bin Khathab, semoga Allah meridhainya, yang sebelumnya begitu pemarah, berpribadi keras sampai-sampai anaknya sendiri dikubur hidup-hidup. Namun, ketika mendapat iman, segalanya berubah! Dia jadi begitu bermurah hati, penyantun, dan sangat peka terhadap derita yang dialami oleh orang lain.
Jazirah Arab, yang semula tidak dikenal, sebuah dusun sederhana dengan
segala keterbatasannya, setelah diterangi cahaya iman, maka berubah menjadi bangsa yang sangat disegani, menjadi pilar peradaban dunia. Maka dengan keimanan inilah kita bisa berharap terjadi perubahan yang hakiki pada diri kita.
Yang semula pemalas berubah menjadi sarat semangat berkarya. Yang tadinya minder, berubah menjadi penuh percaya diri. Seorang isteri yang tadinya kasar dan senang awut-awutan, setelah sadar tentang mulianya di sisi Allah kedudukan seorang wanita yang dapat menyenangkan pendangan dan menjadi menyejukkan hati suaminya, bisa berubah menjadi selalu bersih, rapi serta lebih sabar dan lembut dalam berkata-kata. Seorang anak yang semula gemar membentak-bentak, amat suka membanting pintu andai keinginannya tak dituruti, dapat seketika berubah menjadi amat santun dan berbakti, lantaran dia sadar Allah sangat menyukai anak yang berbuat baik dan penuh kasih sayang kepada orang tuanya.
2. Menjadi Orang yang Merdeka
Selama ini mungkin kita sering dongkol apabila orang yang kita bantu tidak tidak mengucapkan terima kasih. Malah ia pergi nyelonong serasa tak pernah ditolong. Bisa jadi kita sering sebal dengan orang yang tak membalas pemberian-pemberian kita. Padahal inginnya kita, mengirim tape dapat balasan kue. Menghadiahi buku dapat balasan uang saku. Boleh jadi kita pun sering kecewa apabila ternyata kerja keras yang kita lakukan tak berbuah pujian dari seorang pun. Cape-cape menyapu, ibu tak kunjung menyanjung. Susah-susah menjaga rumah bos, kalau bertemu bos tetap saja melengos.
Sebetulnya semuanya adalah wajar. Namun, betapa kita menjadi cape apabila banyak berharap kepada mahluk. Kita menjadi begitu diperbudak oleh penilaian mahluk. Lelah sekali jadinya hidup kita. Sebaliknya, ketika kita telah mengenal Allah, maka kita akan menjadi orang yang merdeka. Dipuji tak dipuji kita tetap giat berbakti. Diberi balasan atau tidak, kita tetap senang berbuat baik. Diawasi atau tidak, kita tetap bekerja dengan tertib dan melakukan yang optimal.
Memang, makin tahu siapa Allah, makin kecil itu mahluk Allah. Makin mengerti penghargaan dari Allah, makin tidak berarti penghargaan mahluk. Makin percaya sempurnanya balasan Allah, makin tak ada harganya balasan dari mahluk. Makin yakin makna detailnya penglihatan Allah, maka makin tidak penting pengawasan mahluk.
Siapa pun yang mengenal Allah tidak akan pernah kecewa dengan perbuatan Allah. Sebab ia yakin semuanya telah terukur. Maka semua puncak kebahagiaan, ketenangan, seluruhnya berbanding lurus dengan tingkat keyakinan kita kepada Allah. Kita akan tenang sebab, Hal Jaza'ul ihsan illal ihsan, "Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)." Itulah janji Allah dalam Surah Ar-Rahman ayat 60.
3.Tidak akan merasa sepi
Dalam delapan ayat pada Al-Quran surah Al-Syu'ara, diceritakan bahwa Ibrahim berkata, "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, (yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali) dan yang amat kuinginkan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat."
Maka kita tidak akan pernah merasa sepi. Sebab ada Allah SWT, yang Maha memperhatikan kita, memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, mengabulkan doa-doa dan menjaga diri kita. Siang malam, baik dalam
keadaan sepi maupun ramai. Sebagaimana yang dijanjikan oleh Allah dalam ayat kursi. "Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus mahluk-Nya."
Jika keyakinan ini sudah tertanam, maka sungguh beruntung. Seorang pemuda yang tadinya penakut, yang ke kamar mandi saja harus diantar oleh kakak dan adik-adiknya, bisa menjadi sangat pemberani. Melintasi hutan tengah malam sendirian untuk berjuang, tak ada masalah baginya. Sebab mengapa mesti takut? Bukankah Allah akan selalu bersamanya? Kenapa harus gentar? Bukankah manusia, Jin, dan Setan seluruhnya ada dalam genggaman Allah? Bukankah pepohonan dan binatang-binatang bahkan sampai bebatuan, semuanya sedang bertasbih memuji Allah? Bagaimana bisa semua itu akan dapat mencelakakan kita, jika Allah sudah melindungi hamba-Nya? ***
[Bersambung, bagian satu dari dua tulisan]
Ma'rifatullah (2)
Penulis : KH Abdullah Gymnastiar
detikcom - Jakarta, 4. Menjadi Optimis
Banyak di antara kita yang merasa kecil hati dalam menghadapi hidup. Hari esok dihadapi dengan bermuram durja. Kusut sekali pikirannya memikirkan apa yang akan dimakan besok, dimana harus tinggal menetap? Padahal andai sudah bulat keyakinannya kepada Allah, maka semua kecemasan itu tak akan terjadi.
Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS Al-Thaliq [65]:3)
Lihatlah anjing, adakah ia pernah keluar pada pagi hari dengan membawa misting? Tempat minum? Ataukah keranjang makanan? Begitu sederhana ia melenggang. Namun, toh ia dapat makan juga. Begitu pula burung ke luar dari sarangnya tanpa membawa apa-apa, namun di sore hari ia pulang dengan keadaan kenyang. Itu semua sebab setiap mahluk memang telah ada bagian rezekinya.
Yang menjadi masalah adalah sudahkah kita yakin bahwa Allah menjamin rezeki kita? Apabila sudah yakin, maka bergeraklah menjemputnya. Optimalkan doa-doa kita, kemampuan berpikir serta tentusaja kemampuan fisik kita. Sebagaimana cecak, yang terus bergerak di sepanjang langit-langit kamar, hingga Allah pun mendatangkan nyamuk, yang akan menjadi santapan lezat baginya.
5. Memiliki Akhlak yang Baik
Seseorang yang yakin akan adanya Allah, maka ia akan sangat berhati-hati. Jangankan berbuat jahat, berniat kurang baik saja sangat dijauhinya. Jangankan korupsi besar-besaran, mengambil uang seratus rupiah milik teman saja ia tak akan berani. Jangankan melakukan pembantaian, bahkan untuk berprasangka jelek pun akan menjaga diri sekali.
Alangkah tenteramnya orang yang berada di samping orang yang berhati bersih. Kejernihan hati yang berasal dari keyakinan bahwa Allah mengawasi segala gerak-geriknya, mengetahui segenap lintasan hatinya. Mau tidak mau, keadaan seperti ini akan membuat hidupnya damai. Sekalipun ia tinggal di indekosan yang sempit, dunia akan terasa luas baginya. Sebab banyak tempat yang
merindukan kehadirannya.
Sekalipun penghasilannya terbatas, rejekinya menjadi luas tak terbatas. Sebab hamba-hamba Allah yang lain amat senang berbagi rezeki dengannya. Sekalipun tidak banyak tempat wisata yang dikunjunginya, sehari-hari matanya senantiasa bertabur keindahan. Sebab bagi orang yang sudah mengenal Allah, semuanya akan terasa mengesankan. Melihat wajah yang pas-pasan, ia tak merendahkan. Melihat wajah yang cantik, ia tidak iri, Bertemu orang yang ilmunya terbatas, ia tidak menjauhi apalagi dongkol. Sedangkan apabila bertemu dengan orang yang cerdas ia akan senang sebab merasa akan bertambah ilmunya melalui orang itu.
Sungguh bahagianya, hidup yang bertebaran kasih sayang orang-orang di sekeliling. Sungguh sahabat, orang yang dicintai oleh Allah, Allah akan memberi tahu Jibril bahwa Allah mencintai orang itu. Kemudian Jibril akan memberitahukan kepada penghuni langit dan bumi bahwa itulah orang yang dicintai oleh Allah. Maka segenap penghuni langit dan bumi pun akan mencintainya, bahkan ikan-ikan yang ada di lautan. Alangkah beruntungnya!
Lalu bagaimanakah caranya agar kita dapat mengenal Allah? Berdasarkan keterangan dari Al-quran maka Allah membimbing kita untuk mengenal-Nya, di antaranya melalui: Pertama, memohon kepada Allah.
Suatu ketika seorang Non Muslim datang ke rumah saya. Kami berbicara tentang beberapa hal. Saya tidak mengajak berbantahan. Meskipun ia banyak bertanya. Ketika ia pulang saya hanya berpesan, "Saudara mohonlah kepada Allah... agar Allah membimbing Saudara untuk dapat menemukannya... insya Allah, Allah akan membimbing Saudara."
Memang demikianlah, kita harus memohon agar Allah berkenan menjadikan kita mengenalnya dengan sebenar-benarnya. Sebagaimana Nabi Ibrahim, semula dia menyangka bintanglah Tuhannya, kemudian dia berpaling, sebab bintang itu tenggelam. Ketika datang bulan, Ibrahim menganggap inilah Tuhannya, tapi ia berpaling kembali, sebabbulan pun tenggelam. Ketika ada matahari, dia menyangka, inilah Tuhannya. Dia berpaling jua, karena matahari pun terbenam. Akhirnya dia mengenal Allah. Dia menunaikan syariat-syariatnya, bahkan menjadi kekasih kecintaan Allah SWT sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT. Dalam Al-Qur'an Surah AL-Zumar ayat ke - 46, Katakanlah, "Ya Allah, pencipta langit dan bumi, yang Mengetahuiyang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya."
Kedua, jangan sombong. Dalam Al-Qur'an terdapat bukti yang menunjukkan betapa Allah sayang kepada manusia, mahluk yang diamanahinya untuk mengelola bumi. Bahkan kepada Fir'aun yang jelas-jelas berbuat sangat jelek, Allah masih memberinya kesempatan untuk mendapatkan rahmat-Nya.
"Sudahkah sampai kepadamu (Ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci, yaitu lembah Thuwa: "Pergilah kamu kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (Kepada Fir'aun): "Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu supaya takut kepada-Nya?"
Namun, ternyata Fir'aun tetap sesat. Tidak lain itu disebabkan kesombongannya sendiri. Memang kesombongan adalah dosa yang amat besar. Tidaklah iblis diusir dari surga melainkan sebab kesombongannya belaka. Ia menyembah Allah, namun ia menolak menghormati Adam. Sebab menurutnya, ia lebih mulia daripada Adam, yang, Allah ciptakan dari tanah, padahal iblis sendiri Allah ciptkan dari api. Sungguh Allah sangat tidak menyukai kesombongan. Sampai-sampai Rasulullah Muhammad SAW Berpesan kepada kita sebagai umatnya, "Sesungguhnya tidak akan masuk surga orang yang ada dalam hatinya kesombongan barang sebesar zarahpun."
Kesombongan bukanlah ketika kita senangmemakai pakaian yang bagus ataupun tatkala kita suka mengenakan sepatu yang bagus ataupun tatkala kita suka mengenakan sepatu yang indah. Namun, kesombongan adalah ketika kita meremehkan orang lain, dan tatkala kita menolak kebenaran. Maka hati-hatilah ketika kita merasa diri lebih baik, lebih mulia dari orang lain, waspadalah tatkala kita tak suka lagi mendengar nasihat.
Ketiga, Gemar mencari ilmu. Sahabat, sesungguhnya dengan ilmulah hidup kita akan menjadi tenang. Menjadi jelas arah yan mesti dituju. Andai kita dapati saat ini negeri kita demikian repotnya, boleh jadi sebab ilmu tentang mengelola negara yang kita miliki masih terbatas sekali. Masalah yang sebetulnya bisa disederhanakan, menjadi rumit dan berlarut-larut. Repot
sekali jadinya.
Maka demikianlah, untuk mengenal Allah pun jelas kita butuh ilmu. Sehingga menjadi suatu keharusan bagi kita untuk mau meluangkan waktu buat mencari ilmu mengenal Allah ini. Bisa dengan membaca buku-buku, mendengarkan ceramah-ceramah, bertanya jawab ataupun dengan cara lainnya. Allah SWT Telah berfirman dalam Al-Quran, agar bertanyalah kepada orang yang berpengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. Maka mulailah meluangkan waktu untuk mencari tahu. Mempelajari apa yang Allah sukai dan apa yang Allah benci.
Apabila kita menyatakan bahwa pekerjaan sehari-hari begitu menyita waktu hingga tak sempat lagi mencari ilmu, maka cobalah renungkan, Tatkala kita ingin buang air besar adakah kita pernah mengatakan, "Aduh... saya sibuk nih. Biar minggunanti sajalah ke kamar mandinya!" Tidak, bukan? Kita secepat kilat pasti akan pergi ke kamar mandi. Tak peduli apakah sedang rapat ataupun ikut seminar. Tak peduli bos ataupun pejabat jenis apa pun yang kita hadapi. Maka ketika kita sudah sadar bahwa mengenal Allah ini penting, kita pun harus mau menjadwalkan waktu untuk mencari dan mempelajarinya penuh kesungguhan.
Keempat, amalkan ilmu. Sesungguhnya ilmu itu adalah untuk diamalkan. Rasullullah Muhammad SAW berlindung kepada Allah dari ilmu yang tak bermanfaat. Maka sahabat, ketika kita mengetahui suatu ilmu yang benar, maka segeralah amalkan. Ketika kita tahu Allah senang pada orang yang bersedekah di dalamnya. Ketika kita tahu Allah amat sayang pada orang yang gemar membaca Al-Quran, jadikanlah Al-Quran sebagai bacaan yangakrab dengan keseharian kita.
Ketika kita tahu Allah tidak senang pada manusia yang zalim, berhati-hatilah dari menyakiti orang lain, baik dengan perkataan ataupun perbuatan kita. Sungguh, barang siapa yang mengamalkan ilmu yang dia dapatkan, Allah akan mewarisinya ilmu yang lain. Tak mengapa saat ini ilmu kita sederhana. Namun, apabila kita gigih mengamalkan ilmu yang ada, Allahlah yang akan terus menerus menambahinya.
Sehingga, sahabat, sekalipun isi tulisan ini sederhana sekali, apabila kita dapat merenungkan apa yang ada di dalamnya, dan mengamalkan apa yang benar darinya, maka Allah berkenan menganugrahi kita ilmu yang lain, dari referensi yang lebih lengkap sehingga menjadi semakin sempurna pengenalan kita kepada-Nya.
Untuk menutup uraian ini kita renungkan firman Allah SWT dalam seluruh ayat pada Al-Quran surah Al-Ikhlas, "Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan dia tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." ***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar